Oleh: Diana Supardi (1111002071)

Hak dan kewajiban bagi bangsa kita sekarang sangat memprihatinkan jika kita lihat kepada kehidupan masyarakat Indonesia sekarang. Birokrasi yang lebih memudahkan orang kaya daripada orang miskin dan bagaimana orang miskin harus bekerja sangatlah keras sedangkan orang orang kaya menikmati hasil kerja keras dengan cara cara yang tidak manusiawi.

Kemiskinan bukanlah suatu hal yang asing di Indonesia , bahkan masalah kemiskinan telah menjadi agenda utama pemerintah Indonesia dalam pergerakan pemerintahan. Telah dilakukan beberapa upaya untuk sedikitnya mengurangi jumlah penduduk miskin di Indonesia seperti dengan : penggalakan pendidikan, pemberian lahan kerja yang lebih banyak untuk mengatasi pengangguran yang semakin membengkak, subsidi kepada rakyat miskin, Peminjaman dana untuk para pengusaha kecil menengah. Memang pada perjalananya, upaya pemerintah tersebut dapat mengurangi jumlah penduduk miskin di Indonesia, tapi perubahan itu tidak terlalu terlihat, justru setiap tahunya penduduk miskin di Indonesia semakin meningkat dan membuat semua upaya pemerintah itu terlihat sia-sia. Sebenarnya apa yang menjadi masalah? mengapa penduduk Indonesia tak bisa lepas dari jerat kemiskinan? Kita akan mengupas dan membahasnya dengan sudut pandang Sosial Stratification.

Sebenarnya, apa itu Social Stratification? Social Stratification adalah suatu sistem dari suatu masyarakat yang membagi masyarakat menjadi beberapa kelas, di Indonesia terlihat sangat jelas bagaimana pembedaan itu terjadi. Kita dapat membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin hanya melalui pakaian yang mereka kenakan. Kita juga dapat melihat bagaimana orang yang menjadi penguasa pada suatu daerah memiliki power dan prestige yang lebih tinggi daripada mereka yang menjadi bawahan dari penguasa itu, sehingga penguasa dapat menyuruh bawahannya untuk melakukan apa yang dia mau. Mengapa hal ini bisa terjadi? Inilah contoh dari kekuatan Scsial Stratification yang menguntungkan suatu masyarakat tertentu dan merugikan yang lainnya.

Dalam Social Stratification terdapat empat asas penting yaitu:

a. Social Stratification bukan refleksi mutlak dari apa yang mereka lakukan.

Kita sering berpikir bahwa keberhasilan seseorang adalah hasil dari usaha dan talenta yang mereka punya saja. Ada faktor di balik kesuksesan yang mereka dapatkan, salah satunya mereka dapat kesempatan untuk mengetahui bagaimana cara sukses tersebut dengan mengenyam pendidikan dan memperoleh pelatihan untuk menjadi sukses. Dari sini kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka yang tidak sukses adalah orang yang malas dan tidak bertalenta. Bagi mereka yang kaya, mereka menikmati faktor-faktor yang dapat membuat mereka sukses seperti: memiliki badan yang sehat, mendapatkan pendidikan yang cukup, mendapatkan relasi-relasi untuk membantu mereka menjadi sukses. Bagi yang miskin, kesempatan tersebut ada, tapi diperlukan usaha yang jauh lebih keras dari mereka yang kaya. Sebenarnya kita sukses atau tidak tergantung juga pada sistem yang diterapkan di tempat kita tinggal, dan sistem itu dapat berpengaruh besar bagi jalan hidup kita.Di Indonesia, banyak masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan secara maksimal karena keterbatasan kesempatan yang mereka punya. Sehingga belenggu kemiskinan akan senantiasa mendampingi mereka, ini akibat dari pengetahuan dan kesempatan mereka yang tidak memadai untuk menjadi seorang yang sukses. Mereka terpaksa menjadi pekerja-pekerja kasar untuk menhidupi keluarga mereka dengan bekerja yang sangat keras tetapi upah yang minim. 

b. Social Stratification dibawa dari masa ke masa

Kita pernah mengetahui pepatah “yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin”. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Orang yang sukses pastinya akan kaya. Dan mereka mewariskan ilmu dan harta mereka kepada keturunannya untuk memperoleh kesempatan untuk menjadi sukses seperti dirinya. Begitu pula sebaliknya, bagi mereka yang tidak sukses tidak dapat mewariskan ilmu dan harta yang dapat memunculkan kesempatan bagi keturunannya untuk sukses. Hal ini akan terus berlanjut dari generasi ke generasi. Lain cerita ketika ada suatu usaha keras atau suatu tekanan yang membuat mereka mengalami social mobility. Social mobility adalah keadaan ketika ada suatu pergantian posisi dalam hierarki sosial. Orang yang tidak sukses pada dahulunya bisa menjadi sukses dengan usaha yang keras dan sebaliknya orang yang sukses dapat jatuh ketika dia tidak bisa mengikuti apa yang telah dilakukan oleh pendahulunya sehingga tidak bisa mempertahankan kesuksesannya.
c. Social Stratification tidak hanya semata-mata ketidak adilan, tapi ada kepercayaan yang mengaturnya.

Social Stratification bukan hanya semata-mata ketidak adilan, tapi ada juga kepercayaan atau sistem yang mengharuskan adanya perbedaan tersebut. Contohnya anak raja dan anak rakyat biasa. Perlakuan yang diberikan pun berbeda seperti lingkungan mereka bergaul, kewajiban yang harus mereka lakukan, dan mungkin saja perbedaan tingkatan pendidikan. Namun dewasa ini, hal tersebut sudah mulai terhapus seiring dengan lahirnya HAM.

Pembagian harta dan kekuasaan di Indonesia menimbulkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Terkadang jarak antara mereka pun hanya beberapa langkah saja. Contohnya tidak usah jauh-jauh, di sekitar Universitas Bakrie tepatnya celah kecil yang sering kita sebut pintu surga neraka menampakkan sangat jelas bagaimana perbedaan lingkungan elite yang rata-rata berpenghasilan menengah ke atas dengan lingkungan padat penduduk yang rata-rata berpenghasilan menengah ke bawah. Dari bangunan yang berada di tempat tersebut terlihat jelas bagaimana mewahnya bangunan Apartemen Aston dan bagaimana kecil dan padatnya lingkungan Menteng Atas. Di sini kita dapat menyimpulkan betapa besarnya kesenjangan sosial antar kedua daerah tersebut yang hanya dipisahkan oleh sebuah tembok beton. Ini adalah refleksi kecil dari bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan kesempatan bagi mereka yang memiliki penghasilan tinggi lebih terbuka dalam memenuhi kebutuhan. Tidak jarang hal ini memicu gaya hidup yang berlebihan kepada kelompok yang memiliki penghasilan tinggi. Seorang yang memliki penghasilan tinggi akan menghabiskan banyak biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya daripada yang berpenghasilan rendah. Orang yang berpenghasilan tinggi akan mengejar prestige yang telah ditentukan oleh lingkungan sosialnya dengan membeli barang barang tersier yang dijadikan patokan kemewahan hidup seseorang seperti membeli aksesoris emas, tas bermerek, baju designer terkenal dan lain lain agar dapat mempertahankan social prestige nya di mata lingkunganya. Dan biaya yang dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan tersebut bisa berpuluh kali lipat biaya yang dibutuhkan oleh seorang berpenghasilan rendah untuk memenuhi kebutuhan primernya. Suatu yang sangat tidak etis sebenarnya, kita menghamburkan uang ditengah orang-orang yang lebih membutuhkan, kelaparan dan bekerja keras demi sesuap nasi. Tapi itu terjadi nyata di kehidupan bangsa ini. Anak-anak yang harusnya mengenyam pendidikan menjadi korban trafficking dan berakhir menjadi pengemis di jalanan di kota Jakarta yang terkenal dengan kemewahanya. Tindakan kriminal sepeti rampok, copet, dan pembunuhan dinilai hal yang lumrah dan sudah biasa karena terdesak secara finansial untuk memenuhi kebutuhanya. Inilah fenomena Social Stratification di Indonesia, dan diperlukan kesadaran oleh segenap bangsa Indonesia untuk setidaknya menolong mereka yang membutuhkan dan membantu mengangkat mereka dari lingkar kemiskinan yang akan selalu membelenggu. Memberantas kemiskinan bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah, melainkan kewajiban kita semua sebagai bangsa Indonesia. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan membantu bangsa kita.

Jika kita tidak menyikapi peristiwa ini, maka dampak ke depanya adalah sikap apatis dari masyarakat elite terhadap masyarakat menengah ke bawah sehingga ketahanan negara akan terancam eksistensinya karena perpecahan di antara masyarakatnya. Masyarakat yang sudah tidak percaya lagi terhadap pemerintahan dan birokrasi di Indonesia akan menjadi bom waktu yang bisa meledak jika kesabaran mereka sudah habis. Mereka dapat mengeluarkan mosi tidak percaya kepada pemerintah dan jika suatu negara sudah kehilangan salah satu pilar yaitu rakyatnya , maka stabilitas dari dari negara akan terancam.

Terima kasih saya ucapkan kepada bapak dosen kami : Bpk. Bani Pamungkas

Salam sejahtera Diana Supardi 

diana-kwn_essay.docx
File Size: 41 kb
File Type: docx
Download File

 


Comments




Leave a Reply