Oleh: Suci Amaliah Assyahra M. Amin (1111002041)


Slurppp.... hmmm…. itulah gumam yang keluar setelah menikmati jamu, wedang, dan minuman olahan tradisional lainnya yang rasanya exotic. Untuk wilayah Jakarta dan kota-kota dipulau Jawa lainnya tidak sulit rasanya untuk menemui berbagai minuman tradisional seperti jamu, wedang, bir pletok, temulawak beruap, dan bandrek. Mulai dari jajanan pinggir jalan hingga di hotel berbintang pun tersedia minuman tradisional tersebut. Nah, ada lagi minuman khas Indonesia yang tak kalah populernya dikalangan masyarakat yaitu es Cendol dan es Kelapa Muda. Cukup dengan  sekali tenggak, ada dua kata yang diucapkan oleh si penikmatnya begitu pun saya “ aargghh segarrr “ . Yaa begitulah warna-warni dari cita rasa minuman khas Indonesia, mulai dari minuman hangat nan menyehatkan sampai minuman yang dingin menyegarkan. Indonesia adalah negri anugrah yang dilimpahi dengan sejuta kekayaannya. Rasanya malu kalau kita kurang bersyukur kepada sang Pencipta atas limpahan yang tak terhitung ini. Dibidang seni, mulai dari seni tari, lukis, musik, drama begitu banyak menghiasi wajah Indonesia. Ragam pakaian adat, rumah adat, adat-istiadat,  senjata tradisional, alat musik daerah, lagu daerah, bahasa daerah, mainan tradisional, makanan, dan akhirnya sampai pada minuman tradisional. Wow, inilah sederet harta yang dimiliki oleh negri Indonesia.

Jamaknya produk minuman yang bersoda maupun yang tidak bersoda, dengan warna dan rasa yang beragam pula semakin mengancam eksistensi minuman tradisional tuan rumah. Terkhusus bagi anak  muda saat ini yang lebih akrab dengan minuman bersoda biru, merah, dan sebagainya ketimbang sekoteng, wedang, jamu, dan kawan-kawan. Mungkin karena minuman tersebut nggak gaul atau sudah tidak sesuai lagi dengan zaman modern saat ini ? Sangat menggelitik sekaligus menyedihkan bila hal-hal sederhana yang merupakan bagian dari tubuh Indonesia, sedikit demi sedikit dan perlahan namun pasti akan menggerus dan akhirnya tenggelam. Namun, sebelum itu terjadi, tidak ada kata terlambat untuk meneriakkan lagi dan lagi bahwa salah satu dari assets Indonesia yaitu minuman tradisional tak boleh letih dan berhenti untuk selalu digaungkan.


Minuman olahan tradisional merupakan salah satu dari identitas bangsa ini. Dari kata identitas menunjukkan sifat yang khas yang menerangkan dan sesuai dengan kesadaran diri, golongan, kelompok, atau negara sendiri, [1] serta identitas merupakan bagian dari tren lebih luas dalam individualisme kontemporer. [2]   

Isotonic, sari buah, dan masih banyak lagi yang merupakan hasil dari olahan pabrik yang terus membanjiri etelase maupun refrigerator supermarket dan kios-kios. Peminatnya pun datang silih berganti tanpa selang waktu yang lama. Bukan menjadi suatu larangan bagi siapapun untuk mengonsumsi produk tersebut, namun disisi lain ada sesuatu hal yang nampaknya kian tergeser dari tempatnya sebagai identitas bangsa. Bila pembiaran ini terus berlangsung, lambat laun hal-hal yang dimiliki oleh Indonesia akan terkikis dan akhirnya habis.

Banyak hal-hal yang dapat menyuburkan semangat nasionalisme bangsa, salah satunya dengan mengangkat minuman olahan tradisional ini kepermukaan, sehingga nasionalisme yang dalam pengertiannya adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia[3] mampu bertahan ditengah-tengah derasnya arus globalisasi.

Di tengah serbuan berbagai minuman kemasan modern saat ini, publik masih cukup akrab dengan minuman khas tradisional. Meski demikian, kegemaran minum minuman tradisional memang tak terlalu besar.[4]

Minuman jamu memang sangat akrab dengan para Ibu atau wedang yang juga akrab dengan para Ayah dan mereka yang sudah berusia lanjut. Namun belum komplit rasanya bila secangkir minuman tersebut hanya digemari oleh kalangan tertentu saja. Sejatinya, minuman tradisional untuk semua kalangan, apalagi anak muda yang notabene sebagai estafet penerus kekayaan bangsa. Roda waktu akan terus berputar bahkan berlari dan tanpa kita sadari bagian dari harta bangsa itu akan tersisih dan terasingkan dirumah sendiri. Penjagaan dan pelestarian minuman tradisional oleh kaula muda sebagai sang pewaris budaya bangsa teramat penting untuk diwujudkan guna mencegah lunturnya salah satu warisan bangsa.

Beberapa waktu yang lalu dan masih terngingang-ngiang dalam benak yaitu beberapa lagu daerah dan karya lainnya milik Indonesia diklaim oleh negara tetangga. Ini merupakan cubitan kecil bagi bangsa ini karena lesunya untuk melestarikan dan meramaikan warisan bangsa sendiri serta menyepelekan hal-hal kecil yang berbau Indonesia sehingga begitu mudah untuk dikalim oleh rumpun tetangga.

Menengok sebentar ke negara lain, seperti di negri Sakura, Jepang, mereka begitu mencintai sepenuh hati dari apa yang menjadi bagian dari budayanya. Lalu, bagaimana dengan Indonesia ? Meniru hal yang baik dari negara lain tidak menjadi suatu masalah sepanjang itu memberikan manfaat dalam menggugah nurani untuk peduli dan peka terhadap warisan bangsa.

Minuman olahan tradisional merupakan minuman dengan resep turun-temurun, namun bila generasi penerusnya memalingkan wajah dan menutup mata akan hal tersebut, maka yang akan terjadi adalah adanya kepincangan dari identitas bangsa ini.

Penanaman nilai-nilai luhur warisan bangsa di bangku sekolah maupun pada tingkat perguruan tingggi sangat berperan dalam menciptakan atmosfer kesadaran, kepedulian, dan kepekaan dalam meramaikan dan melestarikan romantisme cita rasa dalam setiap minuman olahan tradisional Indonesia.

Zaman pencanggihan dewasa ini, memudahkan manusia untuk menikmati suatu produk barang ataupun jasa yang cepat dan efisien. Tak ketinggalan bagi wedang misalnya, sangat mudah kita dapatkan di supermarket atau kios dengan berbagai rasa dan telah dikemas dalam bentuk sachet yang praktis.Inovasi lain datang dari kalangan entrepreneur yang memasukkan minuman tradisional ke dalam daftar menu mulai dari restoran hingga hotel-hotel berbintang yang tak mau kalah dengan sajian minuman asli Indonesia dengan proses pembuatan yang langsung diracik oleh ahlinya.[5] Hal ini membawa angin segar bagi Ibu pertiwi bahwa seiring dengan berkembanganya zaman dan teknologi sejalan pula dengan inovasi baru dalam bentuk penyajiannya sehingga minuman olahan tradisional Indonesia seperti jamu dan wedang akan selalu eksis dan mendapatkan tempat special dihati masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Menikmati hangatnya wedang jahe bagi anda yang sedang terserang flu atau kurang enak badan sangat pas sebagai pertolongan pertama pada kesehatan.

Picture
Mari bersulang menikmati secangkir jamu ataupun wedang setelah beraktifitas seharian. “toast“….











[1] Sedarnawati Yasni. Citizenship, Cetakan Kedua. 

Jakarta: Media Aksara. 2010: 29  

[2] Anthony Smith. Nasionalisme ( Teori, Ideologi, dan Sejarah )

Jakarta: Erlangga. 2003: 21

[3]Pandji Pragiwaksono. Nasionalisme. 

Jakarta: Bentang Pustaka. 2011: 1

[4] Siwi Yunita & Budi Suwarna. Mari Bersulang Sampanye ala Jawa.

Kompas edisi 29 April 2012, hal: 13

[5] Nur Hidayati. Romantisme dalam Secangkir Wedang.

Kompas edisi 29 April 2012, hal: 1 dan 11


suci_amaliah_assyahra_1111002041.docx
File Size: 100 kb
File Type: docx
Download File

 


Comments

Irene
05/25/2012 12:00am

tema yang sederhana tapi cukup berkesan :))

Reply
Sucy
05/28/2012 5:37am

makasih Irene :)

Reply



Leave a Reply