Oleh: Camellia Milano (1111002015)


Maraknya terjadi pelanggaran HAM serta tingginya kasus korupsi di Indonesia menyebabkan citra negara Indonesia di mata internasional menjadi buruk. Namun bukan berarti warga negara indonesia tidak dihargai di luar negeri. Tidak sedikit orang Indonesia yang sukses di luar negeri.

Orang-orang Indonesia, baik yang masih menjadi WNI atau sudah menjadi WNA, yang tersebar di berbagai bangsa diseluruh dunia disebut juga diaspora Indonesia.[1]Orang asing yang pecinta tanah air Indonesia, atau yang memiliki hubungan keluarga dengan warga negara Indonesia juga dikategorikan bagian dari diaspora Indonesia.

“Prinsipnya selama dihatinya ada Indonesia, apapun warna kulit, warna paspor dan jenis visanya, maka ia adalah bagian dari Indonesia. Presiden Barack Obama juga kami anggap warga diaspora Indonesia,” ungkap Dubes Dino Patti Djalal saat sosialisasi Conggres Diaspora Indonesia (CID) yang bakal digelar 6-8 Juli mendatang di Los Angeles Convention Center, California. Kongres Diaspora Indonesia ini merupakan langkah awal agar diaspora Indonesia di luar negeri sebagai komunitas besar, bisa saling berbagi sumber pengetahuan, inovasi, pemberdayaan, modal dan networking. Sebagai sosok orang Indonesia yang dianggap berhasil membangun karir di luar negeri , maka pihak penyelenggara Kongres Diaspora Indonesia berencana mengundang Sri Mulyani dan Anggun sebagai pembicara dalam kongres ini.[2]

Istilah diaspora ini jarang sekali digunakan dalam kehidupan sehari-hari.  Warga Indonesia menganggap warga Indonesia di luar negeri cenderung kurang diperhitungkan, dilihat setengah mata, bahkan kadang dipertanyakan nasionalismenya. Persepsi seperti ini tidak lagi cocok untuk zaman sekarang dan harus diubah. 

Jumlah warga Indonesia di luar negeri sangatlah banyak. Barangkali tidak ada yang mengira jumlah masyarakat Indonesia di luar tanah air mencapai empat juta lebih. Bahkan ada negara yang dijuluki “Indonesia di benua Amerika”, yaitu Suriname. Berdasarkan Sensus Tahun 1990, sekitar 74.760 orang (17,8%) di Suriname adalah orang Jawa.[3] Tapi jangan berpikiran bahwa diaspora Indonesia hanya terdiri dari tenaga kerja indonesia saja. TKI hanyalah bagian kecil dari diaspora Indonesia di luar tanah air.

Ada beberapa alasan warga negara Indonesia ke luar negeri. Biasanya mereka ke luar negeri untuk belajar atau bekerja. Tidak sedikit dari mereka yang terkenal dan mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan prestasi-prestasi yang membanggakan. Figur terkenal yang paling sering kita dengar adalah B.J Habibie, Sri Mulyani dan Anggun C Sasmi.

Selain nama-nama di atas, masih banyak orang Indonesia yang sukses di negara lain, seperti Zubir Said dan Rexy Mainaky. Zubir Said adalah seorang penggubah musik untuk film dan juga pencipta lagu kebangsaan Singapura, “Majulah Singapura”. Sedangkan Rexy Mainaky adalah mantan pemain bulu tangkis Indonesia. Setelah pensiun, Ia menjadi pelatih bulu tangkis, dan saat ini menjadi pelatih di Malaysia.[4]

Adanya diaspora membawa banyak keuntungan bagi negara Indonesia. Salah satunya yaitu dapat memperkenalkan identitas nasional bangsa Indonesia. Identitas nasional ialah jati diri yang membentuk bangsa yaitu berbagai suku bangsa, agama, bahasa Indonesia, budaya nasional, wilayah nusantara, ideologi Pancasila. Identitas nasional tidak terlepas dari nasionalisme yang berhubungan dengan jati diri bangsa. Jati diri bangsa berarti totalitas penampilan bangsa yang utuh dengan muatan dari masyarakat sehingga dapat membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.[5]

Identitas nasional atau identitas bangsa Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk. Kemajemukan tersebut merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas, yaitu suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa.[6] Makanan khas, seperti nasi goreng dan rendang adalah salah satu identitas nasional Indonesia. Bahasa yang digunakan, seperti bahasa Indonesia atau bahasa daerah seperti bahasa Jawa juga merupakan identitas nasional Indonesia. Di Suriname, bahasa Jawa digunakan oleh orang Indonesia yang tinggal di sana.

Bangsa Indonesia tentunya memiliki kebiasaan-kebiasaan atau budaya yang biasa mereka lakukan. Jika mereka pergi ke luar negeri, tentunya kebiasaan dan budaya itu pun akan mereka bawa ke negara lain, negara tujuan mereka. Kebiasaan dan budaya itu merupakan salah satu identitas nasional Indonesia, yang membedakan Indonesia dengan bangsa lain. Identitas nasional yang dibawa ke luar negeri ini akan membuat warga negara lain mengenal Indonesia, membuat mereka menjadi lebih tertarik dengan Indonesia, dan merubah sudut pandang mereka terhadap Indonesia menjadi lebih baik. 

Jadi dapat disimpulkan bahwa diaspora Indonesia sangatlah banyak, dan banyak juga dari mereka yang menjadi sukses dan terkenal di luar negeri. Diaspora ini bisa memperkenalkan Indonesia kepada bangsa lain melalui identitas nasional yang mereka bawa, sehingga bisa memperkuat identitas nasional bangsa Indonesia.

Jika citra bangsa Indonesia di mata negara lain buruk, bukan berarti citra buruk ini wajib diterima dengan pasrah, tetapi kita harus berusaha merubah citra buruk tersebut. Kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Kita bisa belajar dari kesuksesan mereka, bagaimana caranya agar bisa sukses di luar negeri. Kesuksesan warga indonesia di luar negeri seharusnya menjadi motivasi bagi kita yang ingin belajar atau melanjutkan karir di luar negeri.  Kita tidak perlu takut tidak dihargai, atau menjadi rendah diri di hadapan bangsa lain. Sebagai warga negara Indonesia, kita harus bangga menjadi warga negara Indonesia.



[1]Harrys Simanungkalit, “Kongres Diaspora Indonesia di Los Angeles (Amerika),” http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/04/30/kongres-diaspora-indonesia-di-los-angeles-amerika (akses 28 Mei 2012).

[2] Johannes Pontoh, “Ada 4 Juta Lebih WNI di Luar Negeri,” http://manado.tribunnews.com/2012/05/10/ada-4-juta-lebih-wni-di-luar-negeri (akses 28 Mei 2012).

[3] “Suriname,” http://id.wikipedia.org/wiki/Suriname (akses 29 Mei 2012).

[4]“Berikut 10 Orang Indonesia Ngetop di Luar Negeri,” http://www.resep.web.id/serba-serbi/berikut-10-orang-indonesia-ngetop-di-luar-negeri.htm (akses 29 Mei 2012).

[5] Minto Rahayu, Pendidikan Kewarganegaraan : Perjuangan Menghidupi Jati Diri Bangsa (Depok: Grasindo, 2007), hal. 56.

[6] Sedarnawati Yasni, Citizenship, (Bogor: Media Aksara, 2010), hal. 33-34.




Leave a Reply.